DPP LDII: Reformasi Seharusnya Melahirkan Pemimpin Inovatif

Share
Jakarta (1/5). Pascapilpres masyarakat masih terlibat ketegangan, baik di dunia maya dan di dunia nyata.. Masyarakat saling serang di media sosial dan bahkan terjadi ketegangan saat aparat hendak menurunkan baliho salah satu kandidat.
Persoalan ini menunjukkan bahwa kedewasaan demokrasi masyarakat belum terbentuk. Padahal di level atas, elit politik meskipun bersitegang di media massa dan sosial, bila bertemu bersalaman dan berpelukan. Ketegangan-ketegangan di level bawah ini, mengakibatkan kontraproduktif.
“Untuk menghindari hal tersebut, sebenarnya proses demokrasi harus berjalan hari demi hari, bukan lima tahun sekali,” ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo. Masyarakat bisa memberi masukan bahkan menilai mana yang tidak benar kepada pejabat negara dan wakil rakyat.
Menurut Prasetyo, dengan demikian masyarakat tak menahan aspirasinya, lalu meluapkannya setelah lima tahun, “Dengan proses demokrasi yang sehari-hari, pada akhirnya masyarakat bisa memutuskan mana kandidatnya tanpa tekanan, politik uang, atau sebab-sebab di luar diri masyarakat,” ujar Prasetyo.
Ia mengingatkan Reformasi ternyata tak menghasilkan demokrasi yang lebih baik. Karena yang terjadi adalah keterpilihan bukan keterwakilan, akibatnya tak selalu memberikan contoh yang ideal. Prasetyo menyebut, seharusnya demokrasi menghasilkan pemimpin yang inovatif dan bermental melayani masyarakatnya.
Prasetyo Sunaryo proses demokrasi dalam skala mikro bisa menghasilkan pemimpin yang inovatif dan kreatif. Ia menyontohkan Abdul Haris Suhud seorang Kepala Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Lamongan, membangun pariwisata berbasis agrobisnis.
Di atas lahan bengkok – lahan yang menjadi gaji kepala desa -- seluas 4 ha, Haris menanami lahan tersebut dengan sembilan jenis varietas padi. Ia ingin melihat kelebihan masing-masing padi, misalnya yang hasil panennya terbanyak, minim penggunaan air, rasa, hingga mana varietas yang tahan hama.
“Dua di antara varietas tersebut berasal dari Jepang. Pak Haris ingin meneliti apakah beras Jepang tersebut cocok ditanam di Indonesia,” pungkas Prasetyo. Haris juga menanam bunga di sekitar areal persawahan. Fungsinya, untuk mengundang predator hama padi ke areal persawahan.
Selain itu, Haris juga membuat sarang-sarang burung yang diperuntukkan bagi burung hantu. Burung-burung itulah yang mengendalikan hama tikus.
Dengan adanya pemimpin yang inovatif dan melayani rakyatnya, dana desa seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat terutama petani. Namun, triliunan rupiah tak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kepala desa dan warga.
Menurut Prasetyo, inovasi Haris itu menumbuhkan bisnis pariwisata berbasis agrobisnis. Masyarakat ia dorong untuk menjual kuliner hingga souvenir, dari kunjungan masyarakat yang ingin menikmati keindahan taman bunga dan persawahan. Hal ini memberi nilai lebih kepada sawah dan petani, dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat.
Penduduk sekitar lahan dapat menjual makanan bagi wisatawan, hingga menyediakan berbagai kebutuhan wisata, “Bila 72.000 desa se-Indonesia memiliki 20 persen kepala desa yang inovatif, bisa meningkatkan kemakmuran desa,” ujar Prasetyo./ldii.or.id
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags:
 
Copyright © DPW LDII Papua Barat |Created By s@e| Templateism.com